Chinese Angel (in Indonesian)


Kayaknya cerita kali ini enakan diceritain pakai bahasa Indonesia, karena kurang natural kalau pakai bahasa Inggris.

Pada tahun 2006, ketika gw pertama kali masuk SMA di Ingraham H.S., Amerika Serikat, dan bahasa Inggris gw masih patah-patah, plus pikiran anak SMA yang masih sangat positif, gw sempat mengalami kejadian yang mengerikan. Gw hilang di tengah kuburan. Gw sebut ini kejadian mengerikan karena gw nggak ngerti di mana gw berada, plus bingung menjelaskan sikon-nya dengan keadaan bahasa Inggris gw yang juga mengerikan.

Saat itu sekitar bulan September 2006, satu hari sebelum semester awal sekolah di mulai. Teman gw, Michael, ngajak ikutan eskul Cross Country. Sebagai info, cross country adalah olah raga musim panas, di mana para atletnya, lengkap dengan seragam lari bermaskot sekolah, lari melintasi kota. Bukan cuma ngelintas barang nyebrang jalan doang, tapi betul-betul kotanya, hampir bisa disebut keliling kota deh, tapi lari (gempor). Karena gw sudah hampir seminggu di Seattle dan hampir tiap hari jogging ngiterin Green Lake, gw sok-sok-an aja sign up. Nganggap enteng lah barang lari doang.

Besok sore, setelah gw jalan-jalan dari festival Bumbershoot bareng Michael, gw langsung siap-siap mau dateng ke Cross Country first meeting. Sempet males, tapi Michael maksa-maksa melulu. Karena kasihan ngelihat muka Jermanya yang cakep, gw akhirnya luluh (kelemahan nih). Akhirnya datanglah gw dengan polo t-shirt dan shor pants, bersepatu aerobik. Ha kok aerobik? Iya, abis gw bawanya dari Indonesia ya sepatu aerobik. Kalau mau beli lagi di Amrik mahal! sekitar US$50-70 an. Maklum exchange student dari developing country. Awal-awalnya kita cuma lari-lari kecil, tiba-tiba Kumar, salah satu siswa atlet keturunan India, menyarankan agar kita lewat jalan pintas aja menuju Green Lake (haaaa…baru aja gw dari Green Lake, bakal lari ke Green Lake lagi?) Gw pikir jalan pintas yang dimaksud adalah jalan gang kecil gitu kayak disini, ternyata bener-bener nerobos halaman belakang rumah-rumah orang, masuk ke bushes (apa sih bahasa Indonesianya bushes?) dan kuburan! Halah lebih parah deh dari mintas nya orang Indonesia.

Baru kali ini juga gw ngelewatin kuburan luar negeri. Bentuknya yaa kayak yang kita suka liat di film-film, plain dengan batu-batu nisan di hamparan rumput hijau yang rapih, tanpa tanah-tanah menggunduk. Lama-lama kok gw berasa lari paling belakang yah? Nah lo nah lo. Sadar lah gw bahwa orang-orang bule itu kakinya emang panjang-panjang dan staminya nya stamina kuda. Lari mereka (yang katanya lari-lari kecil doang) ternyata cepet. Melihat gw tertinggal, coach nya langsung nyuruh Kumar untuk nemenin gw. Karena gw berasa nggak enak, akhirnya gw bilang aja ke Kumar, “It’s okay. You can go run ahead”. Kumar malah naggapin, “No prob. It’s like jogging for me.” Gila yah, lari gw udah ngos-ngosan, si Kumar malah bilang kayak joging. Dan akhirnya sampailah gw di Green Lake telat, dimana yang lain kayak udah pemanasan gituu, makin nggak enak deh sama Kumar. Karena kecapekan akhirnya gw meminta untuk nggak ikutan race. Bodo amat deh, emang udah capek.

At greenlake in 2005

Saatnya tim kembali pulang ke sekolah. Nanggung juga, secara rumah gw itu di Green Lake, tapi mesti balik lagi ke sekolah buat ambil tas beserta isinya, ngelewatin jalan pintas lagi. Karena Kumar merasa gw udah tau jalan, ya dia caw aja. Perlahan-lahan gw mulai tertinggal dan beneran gw ketinggalan dan hilang dan gw nggak tahu gw dimana. Kepanikan mulai datang beserta serangan short-term memory mengingat arah. Gw berhenti di perempatan pom bensin, bingung harus ambil arah yang mana. Pas gw memutuskan belok kanan, kok kayaknya gw makin jauh…huhuhuhuhuhu gw memutuskan untuk kembali arah. Bener loh saat itu cara gw mengambil jalan pulang benar-benar berdasarkan kata hati (pure kata hati, hati gw bilang ke kanan ya gw ke kanan). Akhirnya gw kembali ke kuburan indah itu. Biarpun indah tapi tetep aja creepy, malah itu dah mau maghrib-maghrib gitu disana. Gw terus berjalan dan berjalan. Haus dan bingung. Dompet dan HP ada di tas olahraga, di sekolah pula.

Gw mulai memasuki daerah jalan-jalan kecil tempat sebelumnya tim memintas. Kali ini lebih banyak pohon pinus yang tinggi-tinggi dan gelap. Mau nangis dan minta tolong, tapi ini jalan sepi banget dan bahasa inggris gw kacau. Tiba-tiba gw melihat sesosok ibu-ibu Chinese berdiri di pertigaan. Kayaknya dia lagi nunggu bis, karena di sebelahnya ada tanda bus stop kecil gitu. Nanya? nggak? Nanya? Nggak? Nanya deh.

Gw: “Excuse me, mam. Do you know where Ingraham High School?”

Ibu-ibu Chinese: “Oooh it is very close. (dengan raut muka excited dan ramah; gw juga bingung kenapa di excited). From here, you go straight there (menuju ke arah berlawanan dari dia), and take a left. Then there is an uphill, you just go straight about 4 blocks. Downhill a little bit, just keep straight, then you’ll see Ingraham Sign. Then you take a right!”

Gw: [bingung mode] karena nggak ngerti apaan, plus directionya kepanjangan. “Thank You.”

Ibu-ibu Chinese: “You’re welcomed”

Lalu gw mulai berjalan sesuai apa yang ibu-ibu Chinese itu bilang. Tapi kok, rasanya gw malah makin jauh dan nggak ngeliat ada belokan atau hill hill yang si Ibu-ibu tadi bilang yaa, malah makin gelap dan disini pinus semua lagi…Kata hati mengatakan, gw harus balik arah menuju ibu-ibu itu lagi. Mudah-mudahan dia belum naik bis. Thanks God, ternyata dia masih nunggu bis (lama banget ya bis-nya?)

Ibu-ibu Chinese itu bingung ngeliat gw balik lagi. Kali ini dengan muka gw yang lebih madesu dari sebelumnya.

Gw: “Sorry mam. I don’t know where to go. I am new here.”

Ibu-ibu Chinese: cuma senyum (mungkin dia pikir gw imigran ilegal yang minta di adopsi kali ya…)

Gw: “Can you help me take me to Ingraham High School? My bag is there?” (mulai menitikan air mata & menahan malu)

Ibu-ibu Chinese: “Ok..Ok.Don’t worry. I’ll escort you there.”

Wuaaahhhhh….ibu-ibu Chinese ini baik banget. Mana tau dia ada urusan lebih penting, tapi sungguh malaikat, dia mau membantu anak Indonesia yang hilang arah kayak gw. Sepanjang jalan Ibu-ibu itu tanya-tanya, dari mana gw, apa tujuan gw datang ke Amerika. Dia juga bilang kalau orang tuanya dulu adalah imigran dari China. Mungkin karena itu dia sangat empati sama gw. Ternyata jalan yang dia bilang menuju Ingraham itu jauh (yeee padahal tadi dia bilang it is very close), belok belok nggak puguh. Untung gw minta anterin 🙂 Sebelnya saat di jalan gw ketemu salah satu temen yang tadi di tim Cross Country. Dia udah ganti baju, bawa tas dan lagi nunggu bis. “Hey, you’re lost” ujar dia (kalau nggak salah namanya Billy). Gw cuma senyum kecut. Sedih yaa. Kalau di Indo gw nggak akan biarin temen gw ketinggalan lari, apalagi sampe hilang dan si Billy itu cuma bilang dengan santainya sambil megang iPod, “Hey, you’re lost” aja.

Amin, akhirnya gw sampai di Ingraham High School. Gw sangat berterimakasih dengan ibu-ibu Chinese itu. Lalu dia melambai dan bilang “Take care of yourself.” Gw membungkuk dan berterimakasih lagi. Setelah dia berlalu dari kejauhan, gw baru ingat kalau gw nggak tahu siapa nama Ibu-ibu Chinese itu karena nggak nanya. Nyesel banget rasanya. Bahkan sampai akhirnya gw pulang lagi ke Indonesia tahun 2007, gw nggak pernah lagi ketemu Ibu-ibu Chinese itu, walaupun gw sering keliling-keliling daerah Ingraham itu, termasuk tempat dimana gw hilang pertama kali. Kemana yaa Ibu-ibu Chinese itu? Gw sangat berharap gw bisa kembali dan ketemu lagi sama Ibu-ibu Chinese itu untuk berterimakasih sambil ngasih Bayem Kriuk! (loh kok Bayem Kriuk ! produk Comdev) Buat gw, Ibu-ibu Chinese itu adalah malaikat yang telah membantu gw.

Sampai di sekolah, nggak ada tim Cross Country yang tersisa. Semuanya udah pulang. Huh dasar nggak pedulian. Yang ada di lapangan hanya tas olahraga gw dan tasnya Michael. Tapi Michaelnya kemana ya?? Gw coba telepon tapi HP nya ditinggal di tas. Panik Panik Panik! Setelah 30 menit, gw melihat Michael ngos-ngosan lari ke arah gw dan langsung meluk gw tanda lega. Ternyata dia abis balik lagi ke Green Lake, nyariin gw!!!!! Gila, itu kan jauh banget! Tapi nggak apa-apa, that’s so sweet 🙂 It is all right, kita cuma temenan kok.

Michael and I at Ingraham HS

Besoknya gw ketemu Sara, salah satu tim Cross Country yang larinya cepet banget. “Hey Riska! Come to Cross Country today”. Gw cuma bisa jawab, “No.Thank You.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s